Aku bergumam tentang ibu
diwan
Menurutku wanita adalah makhluk paling istimewa di dunia ini, karena wanita akan menjadi seorang ibu. Dia lembut, halus dan penyabar. Bagi umat islam, wanita adalah makhluk paling mulia. Bayangkan saja ada ungkapan surga di telapak kaki ibu. Nabi Muhamad pun pernah berkata bahwa kita harus menghormati dan menyayangi ibu, ibu, ibu, ayah dan seterusnya. Bukan tanpa alasan seorang baginda Rosull menyebut kata “ibu” sampai tiga kali. Coba kita renungkan peran ibu.
Pagi-pagi buta di dapur sudah terdengar suara ibu sedang memasak. Ini terjadi setiap hari, saat aku terjaga dari tidurku. Tidak dapat ku bayangkan betapa lelahnya hari-hari ibuku. Setiap pagi harus bangun jam 3 untuk mempersiapkan makanan-makanan yang akan di perdagangkan di sebuah pabrik kecil di dekat rumah kami.
Ibu berdagang di sebuah pabrik kecil yang berada di kawasan industri dekat dengan tempat tinggalku. Setiap harinya ibu berjualan sejak pukul 6 pagi hingga pukul 8 malam. Kadang aku selalu sedih bila ingat dengan ibuku. Dia membanting tulang untuk membiayai kehidupan kami dan biaya sekolah aku dan tiga adikku.
Kami bersyukur punya ibu tegar dan tangguh seperti dia. Beberapa tahun yang lalu kehidupan kami sangatlah sulit, ayah kami yang di pecat dari perusahaan tekstil memilih pergi mencari pekerjaan di luar kota, namun hingga sekarang tidak pernah ku dapat kabarnya. Kabar yang ku dapat malah dari orang lain yang bercerita bahwa ayahku sudah menikah dengan janda kaya. Sekarang aku tidak ingin membicarakan itu.
Karena ibu, kebutuhan kami dapat terpenuhi, meski dengan mengorbankan jiwa dan raganya. Ibu membiayai kuliah ku, sekolah adik-adikku, tak banyak yang dapat ku lakukan saat itu. Kami bertekad akan membahagiakannya di masa tua.
Akhirnya kami menjadi orang-orang yang berhasil. Adik ku yang pertama kini menjadi seorang dokter di salah satu rumah sakit besar di ibu kota, adikku yang kedua kini sudah menjadi artis terkenal, dan adikku yang paling kecil menjadi designer terkemuka di negara ini. Tak dapat dipungkiri semua itu tak lepas dari hasil kerja keras ibuku.
Tapi apa yang ia dapat di masa tuanya?
Seiring dengan suksesnya kami, usia dan kondisi ibu semakin menua dan melemah. Ibu tidak bisa lagi jadi wonder woman, dia hanya bisa duduk di kursi roda. Tapi kami terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Sulit bagi kami untuk dapat menemani ibu meski hanya satu bulan sekali.
Sesekali ibu mengeluh kepada kami, dia ingin ada yang menemani. Aku dan ketiga adikku mencoba berunding untuk mencari solusi yang tepat bagi ibu, akhirnya kami memutuskan untuk mengajak ibu tinggal bersama kami dengan membagi periode waktu tiga bulan sekali.
Bulan pertama adalah adikku yang pertama. Pada hari-hari pertama ibuku merasa senang tinggal bersamanya. Adikku sangat telaten menjaganya. Namun setelah dua bulan adikku di tugaskan untuk pindah tugas ke luar negeri. Adikku sudah konfirmasi dengan kami, namun tidak ada satupun dari kami yang mengindahkan, kami merasa sibuk. Lagi pula akan ada giliran nanti. Ibu hanya tinggal dengan dua orang pembantu dan satu orang supir yang siap mengantarkan kemana saja bila ia ingin, ibu hanya bisa terima.
Periode pertama usai, kini adikku yang kedua mendapat jadwal mengurus ibu di rumahnya. Tapi apa yang ibu dapat? Ibu malah selalu di tinggal oleh adikku. Maklum saat itu adikku sedang naik daun di dunia perfilman. Ibu merasa kesepian jika hanya di temani oleh para pembantu. Ibu mencoba menghubungi adikku yang ketiga, tapi adikku sedang ada di luar negeri menemani suaminya yang sedang tugas.
Ibu terus mengeluh sampai akhirnya kami berunding agar ibu di tempatkan di panti jompo dengan kualitas paling mahal. Ibu mulai di taruh di panti jompo, satu dua bulan kami selalu mengunjungi dan menelponnya. Tapi belakangan kami semua sibuk sehingga tidak sempat mengunjungi.
Saat di panti jompo ibu mulai sakit-sakitan, tidak ada satupun dari kami yang mempunyai waktu luang untuk mengunjungi, meski kami mendapat kabar dari para suster yang merawat ibu, bahwa keadaan ibu sudah sangat lemah dan ingin kami ada di dekatnya, tapi kami tetap tidak mengindahkannya. Kami malah berkata akan menambah biaya ibu empat kali lipat untuk panti jompo asal ibu mendapat perawatan terbaik. Tapi bukan itu yang di inginkan ibu.
Lebih dari satu tahun ibu sakit, akhirnya ibu meninggal dunia. Namun kami tidak tahu akan kematian ibu. Pihak panti yang biasa menghubungi adikku yang paling kecil menjadi sulit karena keberadaan dia di luar negeri. Sayangnya pihak panti tidak mengetahui no HP adik-adikku yang lain.
Setelah satu tahun kematian ibu, akhirnya adik-adikku kembali ke indonesia dan berunding untuk menjemput ibu kembali dari panti asuhan. Awalnya kami ingin memberi sureprize pada ibu dengan datangnya kami. Tapi apa yang kami dapat?
Ibu yang malah memberi sureprize.
“Ibu meninggal dunia”, itu lah kata-kata yang kami dapat dari pihak panti, lalu pihak panti menceritakan semua yang terjadi pada ibu kepada kami. Kami hanya bisa menyesal dan menangisi kepergian ibu. Meski semuanya sudah terlambat.
Sepucuk surat ibu titipkan dan ibu tinggalkan pada pihak panti dan berharap dapat di berikan kepada kami kelak.
“Anak-anakku yang ku cinta, kini sudah sampai di penghujung perjalanan ibu. Ibu bangga pada kalian. Jirihpayah ibu selama ini tidak sia-sia. Maafkan ibu yang selalu mengeluh di masa tua ibu. Ibu berharap kalian dapat menjadi keluarga yang baik yang selalu di sayangi oleh anak-anak kalian hingga ajal menjemput kalian. Kini ibu pergi dan akan mendapat tempat yang layak, yaitu tinggal bersama kakak kalian. Anak pertama ibu, yang sudah mendahului ibu.
Ibu cinta kalian”
Itulah secarik surat yang di tinggalkan ibu untuk kami.
Label: Iseng-iseng
.jpg)
0 komentar: